Waktu begitu cepat…., sampai sampai…, tak terasa, sudah besar anak anakku, Ya Allah, jadikan semua anak dan keturunanku menjadi orang orang yang sholeh….Amin.
Berikut Photo perkembanganmu Anakku.

Hari Ketiga
Waktu begitu cepat…., sampai sampai…, tak terasa, sudah besar anak anakku, Ya Allah, jadikan semua anak dan keturunanku menjadi orang orang yang sholeh….Amin.
Berikut Photo perkembanganmu Anakku.

Hari Ketiga
Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh
Postingan pertama di tahun 2011, mudah2an banyak membawa manfaat untuk kita semua Amin.
langsung saja, berikut polemik yang masih beredar di masyarakat mengenai angka angka sesuai dengan judul dari post ini, mudah mudahan bisa membawa pencerahan untuk kita semua dari keragu raguan di dalam diri kita semua, terutama penulis,
berikut saya kutip pertanyaan dari salah satu forum islam :
| 100 hari ,bolehkah? – 2007/11/22 17:22 Assalamu’alaikum
Yaa.. Habib, sebelumnya saya mohon maaf jika kata-kata saya ada yang kurang berkenan, hal ini dikarenakan ke alfaan saya sebagai manusia. Habib, ada yang ingin saya tanyakan dan hal ini sangat menjadi dilema untuk saya, Yang Pertama adalah : selama ini dilingkungan tempat tinggal saya yang saya ketahui terkadang ada keluarga yang mengadakan pengajian 7hari,40 hari/100hari untuk orang yang sudah meninggal dunia, memang dalam pengajian itu yang saya tahu tidak ada unsur2 klenik (menggunakan bunga dan semacamnya) jadi hanya pengajian biasa saja, tapi saya jadi bimbang karena ada pendapat yang mengatakan bahwa hal itu tidaklah diperbolehkan, sementara pendapat lain mengatakan boleh2 saja karena banyak kebaikan didalamnya. Sungguh Habib saya jadi bimbang pendapat mana yang benar, sudikah kiranya Habib memberikan bimbingan agar tidak ada lagi keraguan di hati saya, sebenarnya pengajian 7hari,40hari/100hari untuk orang yang sudah meninggal dunia diperbolehkan atau tidak dalam Islam? Yang kedua : Apakah berziarah kemakam Kakek itu diperbolehkan? karena ada juga yang berpendapat hal itu tidak diperbolehkan walau ziarah itu tidak dimaksudkan untuk suatu hal apapun. Habib, mohon bimbingannya pada si Faqir ini, Terima Kasih atas kesempatan untuk bertanya yang diberikan pada saya. Wassalamu’alaikum Jawabannya : Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, Limpahan Rahmat dan Inayah Nya swt semoga selalu menyelimuti hari hari anda, Saudariku yg kumuliakan, TAHLILAN Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967). dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai. Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : “DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”, Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur’an untuk mendoakan orang yg telah wafat : “WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN”, (QS Al Hasyr-10). Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir. munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya. Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata. Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, (shahih Bukhari) bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727). Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari). Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya. Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw : Walillahittaufiq 2. mengenai Ziarah kubur pula saya telah menulisnya pada buku saya : “kenalilah akidahmu”, saya tampilkan sbgbr : ZIARAH KUBUR Dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengucapkan salam untuk ahli kubur dengan ucapan “Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmu’minin walmuslimin, wa Innaa Insya Allah Lalaahiquun, As’alullah lana wa lakumul’aafiah..” (Salam sejahtera atas kalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga kasih sayang Allah atas yg terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (Shahih Muslim hadits no 974, 975, 976). Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka berbincang-bincang dengan ucapan “Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul kalian”. Rasul saw berbicara kepada yg mati sebagaimana selepas perang Badr, Rasul saw mengunjungi mayat mayat orang kafir, lalu Rasulullah saw berkata : “wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalf, wahai ‘Utbah bin Rabi’, wahai syaibah bin rabi’ah, bukankah kalian telah dapatkan apa yg dijanjikan Allah pada kalian…?!, sungguh aku telah menemukan janji tuhanku benar..!”, maka berkatalah Umar bin Khattab ra : “wahai rasulullah.., kau berbicara pada bangkai, dan bagaimana mereka mendengar ucapanmu?”, Rasul saw menjawab : “Demi (Allah) Yang diriku dalam genggamannya, engkau tak lebih mendengar dari mereka (engkau dan mereka sama sama mendengarku), akan tetapi mereka tak mampu menjawab” (shahih Muslim hadits no.6498). Makna ayat : “Sungguh Engkau tak akan didengar oleh yg telah mati”. Berkata Imam Attabari rahimahullah dalam tafsirnya bahwa makna ayat itu : bahwa engkaua wahai Muhammad tak akan bisa memberikan kefahaman kepada orang yg telah dikunci Allah untuk tak memahami (Tafsir Imam Attabari Juz 20 hal 12, Juz 21 hal 55, ) Berkata Imam Ibn katsir rahimahullah dalam tafsirnya : “walaupun ada perbedaan pendapat tentang makna ucapan Rasul saw pada mayat mayat orang kafir pada peristiwa Badr, namun yg paling shahih diantara pendapat para ulama adalah riwayat Abdullah bin Umar ra dari riwayat riwayat shahih yg masyhur dengan berbagai riwayat, diantaranya riwayat yg paling masyhur adalah riwayat Ibn Abdilbarr yg menshahihkan riwayat ini dari Ibn Abbas ra dg riwayat Marfu’ bahwa : “tiadalah seseorang berziarah ke makam saudara uslimnya didunia, terkecuali Allah datangkan ruhnya hingga menjawab salamnya”, dan hal ini dikuatkan dengan dalil shahih (riwayat shahihain) bahwa Rasul saw memerintahkan mengucapkan salam pada ahlilkubur, dan salam hanyalaha diucapkan pada yg hidup, dan salam hanya diucapkan pada yg hidup dan berakal dan mendengar, maka kalau bukan karena riwayat ini maka mereka (ahlil kubur) adalah sama dengan batu dan benda mati lainnya. Dan para salaf bersatu dalam satu pendapat tanpa ikhtilaf akan hal ini, dan telah muncul riwayat yg mutawatir (riwayat yg sangat banyak) dari mereka, bahwa Mayyit bergembira dengan kedatangan orang yg hidup ke kuburnya”. Selesai ucapan Imam Ibn Katsir (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 3 hal 439). Rasul saw bertanya2 tentang seorang wanita yg biasa berkhidmat di masjid, berkata para sahabat bahwa ia telah wafat, maka rasul saw bertanya : “mengapa kalian tak mengabarkan padaku?, tunjukkan padaku kuburnya” seraya datang ke kuburnya dan menyolatkannya, lalu beliau saw bersabda : “Pemakaman ini penuh dengan kegelapan (siksaan), lalu Allah menerangi pekuburan ini dengan shalatku pada mereka” (shahih Muslim hadits no.956) Abdullah bin Umar ra bila datang dari perjalanan dan tiba di Madinah maka ia segera masuk masjid dan mendatangi Kubur Nabi saw seraya berucap : Assalamualaika Yaa Rasulallah, Assalamualaika Yaa Ababakar, Assalamualaika Ya Abataah (wahai ayahku)”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.10051) Berkata Abdullah bin Dinar ra : Kulihat Abdullah bin Umar ra berdiri di kubur Nabi saw dan bersalam pada Nabi saw lalu berdoa, lalu bersalam pada Abubakar dan Umar ra” (Sunan Imam Baihaqiy ALkubra hadits no.10052) Dan masih banyak lagi kejelasan dan memang tak pernah ada yg mengingkari ziarah kubur sejak Zaman Rasul saw hingga kini selama 14 abad (seribu empat ratus tahun lebih semua muslimin berziarah kubur, berdoa, bertawassul, bersalam dll tanpa ada yg mengharamkannya apalagi mengatakan musyrik kepada yg berziarah, hanya kini saja muncul dari kejahilan dan kerendahan pemahaman atas syariah, munculnya pengingkaran atas hal hal mulia ini yg hanya akan menipu orang awam, karena hujjah hujjah mereka Batil dan lemah. Dan mengenai berdoa dikuburan sungguh hal ini adalah perbuatan sahabat radhiyallahu’anhu sebagaimana riwayat diatas bahwa Ibn Umar ra berdoa dimakam Rasul saw, dan memang seluruh permukaan Bumi adalah milik Allah swt, boleh berdoa kepada Allah dimanapun, bahkan di toilet sekalipun boleh berdoa, lalu dimanakah dalilnya yg mengharamkan doa di kuburan?, sungguh yg mengharamkan doa dikuburan adalah orang yg dangkal pemahamannya, karena doa boleh saja diseluruh muka bumi ini tanpa kecuali. Walillahittaufiq Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita, Wallahu a’lam Sumber : Mejelis Rasulullah : http://www.majelisrasulullah.org
|
Tanggal 17 November 2010, secara pribadi merupakan hari istimewa buatku, kenapa..?, kemarin kan hari Idul Adha 2010, pastilah itu hari istimewa, buat semua muslim… he he he.., jawabannya pastilah, tetapi sangat teramat istimewa buatku.
1. Saya bisa memerangi perasaan saya sendiri pada hari itu. perasaan apa sih..?, Jawabnya : Perasaan takut MISKIN.
yup, perasaan takut miskin, sebetulnya sudah lama sekali niat ingin berqurban/bersedekah, di hari raya, entah kenapa selalu saja ada perasaan di dalam dada, “memang duitnya ada”, berapa banyak duitnya, nanti kalau dikeluarkan duitnya buat besok bagaimana..?, akh dasar Setan, ada aja selalu perasaan kayak gitu..
Ya Allah, kenapa jadi takut tidak punya uang begini..?,padahal masih sanggup bekerja,..!!!
Ya Allah, kenapa aku jadi tidak bersyukur begini, padahal…keluarga sehat, dan serba kecukupan…!!
Ya Allah, Kenapa….Kenapa………dan banyak lagi.., Astagfirullah…
Sebulan sebelum hari raya, tuh pikiran udah kayak berantem aja…akhirnya….coba coba browsing, baca2 artikel yang berkaitan dengan hakikat berqurban dan sodaqoh, biar nih pikiran/iman lebih mantab, berada di jalur yang benar….wkwkwkwk…
Walhasil nemu beberapa artikel dibawah ini :
Pertama, tentu saja dari “Al Qur’an”
1. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak….. (Al-Baqarah 245 )
2. Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (A- Baqarah 261)
3. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (At-Taubah 111)
4. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.(As-Shaff 10-11)
Kemudian kita lihat dari “Hadits”
1. Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan melainkan bertambah-bertambah dan bertambah (HR Tirmidzi)
2. Rasulullah saw bersabda: “Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak. Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.”
3. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. :Rasulullah Saw pernah bersabda, “Allah berkata, ‘Keluarkanlah (infaq) dan akan akan kukeluarkan untukmu’”
Dari Sahabat dan Ulama
1. Ali Bin Abi Thalib berkata : Pancinglah rezekimu dengan sedekah
2. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Mohon datangkan rizki dengan sedekah
Dari beberapa dalil tersebut, dapat kita lihat beberapa kesimpulan ;
1. Harta yang disedekahkan akan dilipatgandakan Allah dengan lipatganda yang banyak
2. Harta yang disedekahkan “dibeli” Allah dengan surga
3. Harta yang dibelanjakan di jalan Allah dapat menyelamatkan dari Azab
Pamrih, tentu saja boleh selama pamrih itu kepada Allah, bukan kepada Makhluk. Ketika kita bersedekah dan Yakin bahwa Allah akan mengganti, Insya Allah kita akan mendapat 2 pahala. Pahala bersedekah dan pahala berharap. Tih berharapnya kepada Allah, kepada Dia yang menjanjikan sedekah kita akan diganti dengan lipatganda yang banyak.
Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). Ini menunjukkan seuatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.
HIKMAH DAN FADHILAT
Dengan membaca artikel diatas…, insya allah hati saya, jadi semakin mantab, dan Insya allah ihklas untuk mengeluarkan sedikit harta yang dimiliki, dengan mengharapkan “PAMRIH“, ya… bahasa kasarnya seperti itu, dengan jujur saya mengharapkan pamrih kepada ALLAH, tuhanku yang Maha Pengasih, dan Maha Pemberi Rizki..saya sangat mengharapkan rezeki yang sangat berlipat, …dan semua harapan / keinginan yang ada di dalam hati dan pikiran saya bisa terkabul…Amin.
Catatan :
Tulisan ini, bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, bahkan pamer, insya allah, tidak ada maksud seperti itu, ini semata mata hanya luapan kesenangan penulis bisa memerangi rasa kegundahan di dalam hati. dan penulispun sangat sadar, sangat tidak pantaslah untuk sombong, semua kekayaan hanyalah milik Allah semata, ALLAHU AKBAR.
Apabila ada teman2 yang membaca tulisan ini, mohon anggaplah sebagai alat pemicu agar kita selalu berusaha untuk selalu menggunakan harta yang diberikan oleh Allah pada jalan yang benar
dan terakhir……anggaplah tulisan ini sebagai salah satu cara untuk Syiar Agama Islam.
Sumber :
- http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/qurbandanaqiqah.htm
Dalam Suasana Ramadhan, sedikit melihat, memahami dari maksud Cerita Jaman dahulu kala, pada saat penaklukan Demak dan Majapahit. mudah mudahan dapat diambil intisarinya :
NASEHAT NYAI AGENG KEPADA RADEN PATAH.
Sesudah tiga hari, Sultan Demak berangkat ke Ampel. Adapun yang ditugaskan menunggu di Majapahit adalah Patih Mangkurat serta Adipati Terung. Mereka diperintahkan menjaga keamanan keadaan dan segala kemungkinan yang terjadi. Sunan Kudus menjaga di Demak menjadi wakil Sang Prabu. Di Kabupaten Terung juga dijaga ulama tiga ratus, setiap malam mereka shalat hajat serta tadarus Al Qur’an. Sebagian pasukan dan para Sunan ikut Sang Prabu ke Ampelgading. Sunan Ampel sudah wafat, hanya tinggal istrinya. Istri beliau asli dari Tuban, putra Arya Teja. Setelah wafatnya Sunan Ampel, Nyai Ageng menjadi sesepuh orang Ampel. Sang Prabu Jambuningrat (Raden Patah) sesampainya di Ampel, kemudian menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Para Sunan dan para Bupati berganti-ganti menghaturkan sembah kepada Nyai Ageng. Prabu Jimbuningrat berkata bahwa dirinya baru saja menyerbu majapahit, dan melaporkan hilangnya ayahanda serta Raden Gugur. Ia juga melaporkan kematian Patih Majapahit dan berkata bahwa dirinya sudah menjadi raja seluruh tanah Jawa bergelar Senapati Jimbun. Beliau meminta restu, agar langgeng bertahta dan anak keturunannya nanti jangan ada yang memotong.
Nyai Ageng Ampel mendengar perkataan Prabu Jimbun, menangis seraya merangkul Sang Prabu. Hati Nyai Ageng tersayat-sayat perih.
Demikian ia berkata “Cucuku, kamu dosa tiga hal :
1. Melawan raja
2. dan Melawan orang tuamu,
3. Serta melawan orang yang memberi kedudukan sebagai bupati.
Mengapa kamu tega merusak tanpa kesalahan. Apa tidak ingat kebaikan Uwa Prabu Brawijaya? Para ulama diberi kedudukan dan sudah membuahkan rizki sebagai sumber makannya, serta diberi kemudahan dan dibebaskan menyebarkan agama? Seharusnya kamu sangat berterima kasih, tapi akhirnya malah kamu balas kejahatan, kini mati hidupnya beliau pun tidak ada yang tahu.”
Nyai Ageng kemudian menanyai Sang Prabu, katanya, “Angger ! Aku akan bertanya kepada kamu, jawablah sebenarnya, ayahandamu yang benar itu siapa? Siapa yang mengangkat kamu menjadi raja di tanah Jawa dan siapa yang mengizinkan kamu? Apa sebabnya kamu menganiaya orang tanpa dosa?”
Raden Patah kemudian menjawab, bahwa Prabu Brawijaya adalah benar-benar ayahandanya yang mengangkat dirinya menjadi raja memangku tanah Jawa dan semua bupati pesisir, dan yang mengizinkan para Sunan. Mengapa negara majapahit dirusak ?, karena Sang Prabu Brawijaya tidak berkenan masuk agama Islam, masih mempercayai agama kafir, Buda kawak dawuk seperti kuwuk.
Nyai Ageng mendengar jawaban Prabu Jimbun, kemudian menjerit seraya merangkul Sang Prabu, dengan berkata, “Angger! Ketahuilah, kamu itu dosa tiga hal mestinya kamu dikutuk oleh Gusti Allah. Kamu berani melawan Raja lagi pula orang tuamu sendiri, serta orang yang memberi anugrah kepada kamu. Kamu beran-beraninya mengganggu orang tanpa dosa. Adanya Islam dan kafir siapa yang menentukan, selain hanya Gusti Allah sendiri. Orang beragama itu tidak boleh dipaksa, harus keluar dari keinginan diri sendiri. Orang yang kukuh memegang agamanya sampai mati itu utama. Apabila Gusti Allah sudah mengizinkan, tidak usah disuruh, sudah pasti dengan sendirinya memeluk agama Islam. Gusti Allah bersifat rahman, tidak memerintahkan dan tidak menghalangi kepada orang beragama. Semua ini atas kehendaknya sendiri-sendiri.
Gusti Allah tidak menyiksa orang kafir yang tidak bersalah, serta tidak memberi ganjaran kepada orang Islam yang bertindak tidak benar, hanya benar dan salah yang diadili dengan keadilan. Ingat-ingatlah asal-asalmu, ibu-mu Putri Cempa menyembah Pikkong, berwujud kertas atau patung batu. Kamu tidak boleh benci kepada orang yang beragama Buddha. Matamu itu berkacalah, agar tidak blero penglihatanmu, tidak tahu yang benar dan yang salah. Katanya anaknya Sang Prabu, kok tega menelan kepada ayahanda sendiri. Bisa-bisanya sampai hati merusak tata krama. Berbeda matanya orang Jawa. Orang Jawa matanya hanya satu, maka ia menjadi tahu benar dan salah, tahu yang baik dan yang buruk, pasti hormat kepada ayah, kedua kepada raja yang memberi anugrah, ia wajib dijunjung tinggi.
Ikhlasnya hati bakti kepada ayah, tidak berbakti kepada orang kafir, karena sudah kewajiban manusia berbakti kepada orang tuanya. Kamu aku dongengi, Wong Agung Kuparman, itu beragama Islam, punya mertua kafir, mertuanya benci kepada Wong Agung karena lain agama, mertuanya selalu mencari cara agar menantunya mati. Tetapi Wong Agung selalu hormat dan sangat menjunjung tinggi kedua orang tuanya. Ia tidak memandang orang tua dari segi kekafirannya, tetapi posisinya sebagai orangtuanya. Maka Wong Agung selalu menjunjung hormat kepaa mertuanya itu. Itulah angger yang dinamakan orang berbudi baik. Tidak seperti tekadmu, ayahanda disia-siakan, mentang-mentang kafir Buddha tidak mau berganti agama. Itu bukan patokanmu. Aku akan bertanya sekarang, apakah kamu sudah memohon kepada orang tuamu, agar beliau pindah agama? Mengapa negaranya sampai kamu rusak itu bagaimana?
Prabu Jimbun berkata, bahwa ia belum memohon pindah agama, sesampainya di Majapahit langsung saja mengepung. Nyai Ageng Ampel tersenyum sinis dan berkata, “Tindakanmu itu makin salah. Para Nabi di jaman kuno, ia berani kepada orang tuanya itu karena setiap hari sudah mengajak berpindah agama, bahkan sudah ditunjukkan mukjizat kepadanya, tetapi tidak berkenan. Karena setiap hari sudah dimohon agar memeluk agama Islam, tetapi ajakan tadi tidak dipikirkan, masih melestarikan agama lama, maka kemudian dimusuhi. Jika demikian caranya, meskipun melawan orang tua, lahir batin tidak salah.
Tapi orang seperti kamu? Mukjizatmu apa? Apabila benar Khalifatullah berwenang mengganti agama, coba keluarkan apa mukjizatmu, aku lihat?”
Prabu Jimbun mengakui bahwa ia tidak memiliki mukjizat apa-apa, hanya menurut perkataan buku, katanya apabila mengislamkan orang kafir besok akan mendapat ganjaran surga. Nyai Ageng Ampel tersenyum tetapi tambah amarahnya. Kata-kata saja kok dipercayai, pun bukan buku dari leluhur. Orang mengembara kok dituruti perkataanya, yang mendapat celaka ya kamu sendiri. Itu pertanda ternyata masih mentah pengetahuanmu. Berani kepada orang tua, karena keinginanmu menjadi raja, kesusahannya tidak dipikir. Kamu itu bukan santri yang tahu sopan santun, hanya mengandalkan surban putih, tetapi putihnya kuntul, yang putih hanya di luar, di dalam merah. Ketika kakekmu masih hidup, kamu pernah berkata bila akan merusak Majapahit, kakekmu melarang. Malah berpesan dengan sungguh-sungguh jangan sampai memusuhi orang tua. Sekarang kakekmu sudah wafat, wasiatnya kamu langgar. Kamu tidak takut akibatnya? Kini kamu minta izin kepadaku, untuk menjadi raja di tanah Jawa, aku tidak berwenang mengizinkan, aku rakyat kecil dan hanya perempuan, nanti buwana balik namanya. Karena kamu yang semestinya memberi izin kepadaku, karena kamu Khalifutullah di tanah Jawa, hanya kamu sendiri yang tahu, seluruh kata-katamu lidah api. Aku sudah tuwa tiwas, sedangkan jika kamu nanti tia, akan tetap menjadi tuanya seorang raja.”
Nyai Ageng Ampel berkata lagi, “Cucu! Kamu aku ceritakan sebuah kisah, dalam Kitab Hikayat diceritakan di tanah Mesir, Kanjeng Nabi Dawud, putranya menginginkan tahta ayahandanya. Nabi Dawud sampai mengungsi dari negara, putranya kemudian menggantikannya menjadi raja. Tidak lama kemudian Nabi Dawud bisa kembali merebut negaranya. Putranya naik kuda melarikan diri kehutan, kudanya lepas tersangkut-sangkut pepohonnan, sampai ia tersangkut tergantung di pohon. Itulah yang dinamakan hukum Allah.
Ada lagi cerita Sang Prabu Dewata Cengkar, ia memburu-buru tahta ayahandanya, tetapi kemudian dikutuk oleh ayahandanya kemudian menjadi raksasa, setiap hari makan manusia. Tidak lama kemudian, ada Brahmara dari tanah seberang datang ke Jawa bernama Aji Saka. Aji Saka memamerkan ilmu sulap di tanah Jawa. Orang jawa banyak yang cinta kepada aji Saka, dan benci kepada Dewata Cengkar. Ajisaka diangkat menjadi raja, Dewata Cengkar diperangi sampai terbirit-birit, tercebur ke laut, dan berubah menjadi buaya, tidak lama kemuian mati. Ada lagi cerita di Negara Lokapala juga demikian, Sang Prabu Danaraja berani kepada ayahandanya, hukumnya masih seperti yang kuceritakan tadi, semua menemui sengsara. Apa lagi seperti kamu, memusuhi ayahanda yang tanpa tata susila, kamu pasti celaka, matimu pasti masuk neraka, yang demikian itu hukum Allah”. Sang Prabu Jimbun mendengar kemarahan eyang putrinya menjadi sangat menyesal di hati, tetapi semua sudah terjadi.
Nyai Ageng Ampel masih meneruskan, “Kamu itu dijerumuskan oleh para ulama dan para Bupati. Tapi kamu koq mau menjalani, yang mendapat celaka hanya kamu sendiri, lagi pula kehilangan ayah, selama hidup namamu buruk, bisa menang perang tetapi musuh orang tua raja. Karena itu bertobatlah kepada Yang Maha Kuasa, kiraku tidak bakal memperoleh pengampunan. Pertama memusuhi ayah sendiri, kedua membelot kepada Raja, ketiga merusak kebaikan dan merusak negara tanpa tahu adat. Adipati Ponorogo dan Adipati Penging pasti tidak akan menerima rusaknya Majapahit, pasti ia akan membela kepada ayahnya, itu saja sudah berat tanggunganmu.”
Nyai Ageng tumpah-ruah meluapkan amarahnya kepada Prabu Jimbun. Setelah itu, Sang Prabu diperintahkan kembali ke Demak, serta diperintahkan agar mencari hilangnya ayahandanya. Apabila sudah bertemu dimohon pulang kembali ke Majapahit, dan ajaklah mampir ke Ampelgading. Akan tetapi apabila tidak berkenan, jangan dipaksa, karena jika sampai marah maka ia akan mengutuk, kutukannya pasti makbul.
=========================================
Tanya Jawab Pada majelis Rasulullah mengenai Bom Bunuh Diri :
Pertanyaan nya:
1. Adakah yang dinamakan Jihad dalam menumpas kemaksiatan dngan Menghancurkan tempat kemaksiatan dgn BOM?
2. Adakah Mati syahid Bila menghancurkan tempat kemaksiatan dgn Bom Bunuh diri?
3. Andai tidak Dgn Bunuh diri Diperbolehkan kah mengebom/ menghancurkan tempat maksiat tsb?
Terimakasih.
Semoga bermanfaat.
JAWABAN :
Re:Bom Bunuh Diri – 2005/11/24 18:46
Alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh
1. Jihad adalah memerangi kaum musyrikin dan kekufuran di jalan Allah, dan tak ada hukum islam yg memperbolehkan pembunuhan membabi buta, karena jihad ini ada pembahasan panjang lebarnya, (rujuk kutubulfiqh Bab Jinayat) apakah kita yakin dalam tempat ramai itu kesemuanya pasukan kafir yg memerangi islam?, dan pemerangan atas mereka bukanlah saat mereka tak berdaya dan tak bersenjata, dan membunuh wanita dan anak anak mereka haram hukumnya.
2. Bunuh diri hukumnya murtad dengan Ijma? seluruh Ulama Ahlussunnah waljama’ah
3. Menghancurkan tempat maksiat boleh boleh saja, tanpa melukai atau membunuh, namun itu dilakukan dengan memperhitungkan mudharrat dan manfa’atnya, untuk zaman sekarang ini menurut hemat saya baiknya kita Bom pusat pusat tempat maksiat, dimana?, di hati kita sendiri, dan di sanubari ummat manusia, bom dengan nasihat kelembutan hingga lebur tak tersisa lagi keinginan bermaksiat, bila masyarakat sudah reda dari keinginan mengunjungi tempat maksiat, maka semua tempat tempat itu akan tutup dg sendirinya dan damai, karena tak ada pengunjungnya, inilah Bom Sayyidina Muhammad saw.
Sepatah kata dari saya, yang miskin ilmu ini :
di ambil dari cerita “Serat Darmogandul”, mudah mudahan tidak salah tulis, mengenai artikel diatas mengenai Nasehat Nenek . dan tanya jawab pada Forum Majelis Rasulullah
1. Tidak selayaknya seorang Muslim, dengan mudah mengatakan seseorang itu Kafir.
2. Janganlah Seorang Muslim menganiaya, memaksa apalagi menghancurkan orang atau barang dengan alasan atas perbedaan dengan keyakinan.
3. Mungkin Teman teman yang membaca artikel ini bisa menambahkan.
sengaja saya tulis ini di blog, dikarenakan akhir akhir ini banyak fenomena, atau orang2/organisasi yang mengatasnamakan agama, untuk saling menghancurkan, padahal atas tindakannya itu malah merusak Agama ISLAM.
Sumber :
http://dot-majapahit.blogspot.com/2010/02/nasehat-nyai-ageng-kepada-raden-patah.html
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=141#141
Welcome new member…Selamat datang, mari kita bersama sama menghadapi dunia yang penuh godaan dan cobaan ini.
Telah lahir putra kedua kami pada hari minggu tanggal 25 July 2010. Pukul 07.30, Dengan selamat dan sangat sempurna, Atas ridho dari ALLAH yang menguasai alam ini.
Semoga Anak kami menjadi anak yang Sholeh dan diberikan karunia dan rahmat NYA. Amin..
Alhamdulillah…………..Alhamdulillah, engkau kabulkan semua permintaan kami untuk keselamatan dan kesehatan anak kami.,
dan pada hari ke empat belas, pada tanggal 14 kelahiran putra ke dua kami, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2010, kami melaksanakan Aqiqah, terima kasih kepada semua yang sudah bersedia mendoakan putra kami untuk kebaikan.
1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim alaihissalam tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail alaihissalam.
2. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya.” [3]. Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.
3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.
4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.
5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.
Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.
Source :
http://id.wikipedia.org/wiki/Aqiqah